Tuesday, 27 August 2013

Bandung I'm in Love # 2

 Cerita sebelumnya disini


Juni, 1997

Alhamdulillah, tabungan hasil menyisihkan uang jajan selama 6 bulan akhirnya mencukupi pas begitu liburan panjang kenaikan kelas tiba. Kali ini daku berencana menghabiskan 3-5 hari di Bandung bersama Lita, sahabat dekatku di sekolah. Setelah mendapatkan izin pergi, akhirnya kami nekat menuju Bandung dengan menggunakan bus dari terminal Kampung Rambutan siang itu. Sayang rasanya kalau berangkat menggunakan Kereta Parahiyangan. Dengan menumpang bis, kami bisa mengirit ongkos hingga setengahnya.

Setelah 5 jam perjalanan melewati Puncak-Cianjur, akhirnya kami tiba di Terminal Leuwi Panjang. Tujuan kami adalah langsung menuju Cicaheum, ke rumah kediaman Te' Tuti. Sebelumnya, begitu turun dari bis, kami langsung mencari telfon umum untuk menghubung Te' Tuti. Sayangnya, telfon ke rumahnya tidak ada yang mengangkat. Lalu menelfon rumah Tante Uci di Cimahi dan kebetulan Mas Gugun yang angkat. Kami memberitahu kalau kami sudah tiba di Terminal Leuwi Panjang, dan bermaksud menanyakan rute dari Leuwi Panjang ke Cicaheum itu harus naik kendaraan umum apa. Mas Gugun kaget, dia tidak percaya kalau daku dan Lita saat ini berada di Bandung, di Terminal Leuwi Panjang, berdua saja, tanpa Ci' Dewi dan Omku. Sempet diceramahin dulu kenapa mau ke Bandung tidak bilang-bilang, kalau memberitahukan sebelumnya kan bisa dijemput, sebentar lagi gelap, kalau nyasar gimana? Kalau sekarang baru jalan dari Cimahi hendak menjemput kami, bisa-bisa kami menunggu kemaleman di terminal, dan itu rawan menurutnya. Atas instruksi Mas Gugun, kami memutuskan untuk menumpang Bus Damri saja jurusan Leuwi Panjang-Cicaheum. Saat itu tidak ada taksi kecuali taksi gelap. Pilihan yang paling tepat dan aman menurutnya menumpang Bus Damri.

Kami segera mencari pool Bus Damri, tapi tidak melihat tulisan Bus Damri yang jurusan Cicaheum. Tiba-tiba seorang preman terminal menghampiri kami. Mungkin melihat tampang kami yang celingak-celinguk dan bisa dijadikan sasaran empuk, pikir kami saat itu. Berusaha tetap tenang, memasang tampang berani padahal takut setengah mati, kami siap menghadapi preman itu. Semakin dekat, kami makin waspada. "Aduh Teteh, bade kamana atuh? Diliatin dari tadi kaya nunggu bus damri? Bus damri udah ga beroperasi jam segini, itu teh bus damri lagi ngetem dan baru jalan lagi besok!" Preman itu bicara dengan logat sundanya yang lembut. Daku dan Lita saling berpandangan, tersenyum nyaris pingin ngakak, dalam hati masing-masing sepertinya kami punya pendapat yang sama. Ini preman bahasanya sopan sekali yah. Membuat rasa takut kami melorot hingga mata kaki. Tidak takut sama sekali.

Spontan daku jadi berani dan langsung menjawab, "Bade ka Cicaheum" gayaku berbahasa sunda, ingin membuat kesan sesunda mungkin buat si preman sehingga jika dia memiliki niat jahat, lantas mengurungkan niat jahatnya dan berbalik berbuat baik pada kami. "Waaah,, memang ka Cicaheum teh ga ada yang langsung selain menumpang Damri. Kalau menjelang maghrib begini, dari sini harus ngangkot ka Kalapa dulu, dari Kalapa baru ada angkot lagi yang ka Cicaheum. Sok atuh, Teteh ikut saya biar ditunjukin naik angkot yang mana ke Kalapa. 

Bagai sapi dicocok hidungnya, kami mengikuti kearah mana preman itu melangkah. Tidak beberapa jauh, tampaklah berderet angkot yang mengetem menunggu penumpang penuh. Si Preman mendekati angkot yang setengah penuh, dan berbicara dengan sang sopir. "Kang, ini Teteh-teteh bade ka Cicaheum, mau numpang angkot sampai Kalapa. Nuhun atuh Kang, dari Kalapa nanti ditunjukkan angkot mana yang ka Cicaheum. Kasian kalau sampai nyasar." Setelah sang sopir setuju, kami dipersilahkan duduk di depan samping sopir. Tak lama si Preman pamit, kami pun mengucapkan terima kasih karena sudah memberitahu arah kami menuju Cicaheum. Sesampainya di Kalapa, sang sopir menunjukkan angkot Kalapa-Caheum yang harus kami tumpangi.

Dalam angkot Kalapa-Caheum, kami membahas kejadian tadi dan membandingkan kalau seandainya situasi yang sama seperti tadi itu kami alami di Terminal Kampung Rambutan. Rasa-rasanya, akan jauh berbeda dengan akhir yang kami dapati disini. Kemungkinan-kemungkinan terburuk akan kami alami jika langsung percaya seperti tadi. Point yang terpenting tadi adalah, walaupun penampilannya preman terminal yang menyeramkan, tapi ternyata baik hati menolong kami. Itu satu point lagi yang membuat aku jatuh cinta dengan kota yang menurutku sangat ramah ini *nanti akan ada cerita dimana daku berhi-hi-an dengan punkers BIP hihihihi.

Alhamdulillah, Kami tiba di rumah Te' Tuti lepas adzan isya. Te' Tuti sudah tidak terkejut lagi menerima kedatangan kami. Selain Ci' Dewi sudah menelfon ke rumahnya menanyakan kami sudah tiba atau belum dari Jakarta, ternyata Mas Gugun juga sudah menelpon memberitahukan kalau kami sudah di Terminal Leuwi Panjang menuju Cicaheum. Setelah mengenalkan Lita, kami istirahat sebentar, mandi dan siap-siap makan malam. Lanjut mengobrol santai bertukar kabar keluarga di Jakarta. Sebelum tidur, daku mengajak Lita menikmati udara malam Bandung diatas balkon. Melihat bintang. Saat itu terbayang bintang yang daku liat di rumah Tanjung Sari kemarin. Langitnya bersih, sehingga kerlap kerlip bintang terlihat sangat terang. Pemandangan yang tidak pernah daku lihat di Jakarta. Pemandangan bintang malam itu dari balkon juga tidak seterang waktu di Tanjung Sari. Tapi masih jauh lebih terang jika dibandingkan di langit Jakarta. Sebelum menutup pintu kamar dan tidur, daku menarik nafas dalam-dalam, memasukan sebanyak mungkin udara dingin malam ini di Bandung.

Adzan shubuh berkumandang, tak kusia-siakan untuk segera bangun, membuka pintu untuk menikmati udara shubuh yang masih berembun dan berkabut. Lita kubiarkan masih tidur berselimut. Kasian, perjalanan kemarin pasti membuatnya lelah. Daku segera turun untuk mengambil wudhu, mendapati nenek sudah sibuk di dapur. Nenek yang sudah tua, namun tetap cantik ayu ini menyapaku "Gimana neng geulis, enak tidurnya?" yang kujawab dengan anggukan dan senyuman paling manis. "Iya, Nek. Enak banget, dingin selimutan, rasanya males bangun ini. Tapi khan harus sholat shubuh." "Sok atuh, wudhu heula, nanti kalau sudah sholat, turun sini minum teh biar anget. Pakai sandal biar tidak dingin menginjak lantainya." Ujarnya lagi. Selesai sholat, baru kubangunkan Lita. Kutanya gimana tidurnya semalem? Sambil kuceritakan, beginilah udara pagi di Bandung. So far Lita menikmati liburan kami ini. Daku pun bilang sama Lita agenda hari ini mau kemana. Ke Cihampelas. Kenapa? Karena kalau kita ke Cihampelas, kita bisa melewati kampus Unpad Dipati Ukur.


Te' Tuti sudah rapi mengenakan baju kerjanya. Beliau menanyakan kepadaku tujuan hari ini mau explore kemana. Daku bilang mau ke Cihampelas, selain ingin memberitahu Lita Unpad Dipati Ukur, tapi juga teringat Kak Fahmi, kakak sepupuku memberiku alamat seseorang yang berbisnis garment sisa ekspor di daerah Cihampelas. Itu tempat dimana dia dan teman-temannya kuliahnya sering hunting baju-baju 'gaul 70's' yang sekarang kembali in. Kemeja-kemeja small cutting bodyfit, kaos-kaos branded. Sepupuku ini memang anak gaul di kampus. menurutnya, kalau daku berniat hunting baju, yah kesitu saja. Kuutarakan tujuan itu ke Te' Tuti. Karena mengkhawatirkan kami akan nyasar, akhirnya Te' Tuti berjanji, secepatnya beliau kembali ke rumah, setelah absen dan meminta izin kepada atasannya.

Benar saja, jam 10 pagi, Te' Tuti sudah ada dirumah, dan kami pun bersiap untuk pergi. Daku meminta perginya menggunakan angkot saja, tujuannya, jika nanti daku liburan ke Bandung lagi, entah sendiri atau bareng Lita lagi, daku sudah tau arah dan rute jika mau pergi kemana-mana tanpa bergantung kepada siapapun. Naiklah kami angkot jurusan Cicaheum-Ledeng. Sepanjang jalan kuperhatikan persimpangan, nama daerah dan tempat-tempat yang bisa dijadikan patokan arah. Seperti Gedung Sate dan Lapangan Gasibu yang kujadikan titik sentral. Anehnya, kalau kemarin dari Lapangan Gasibu itu Unpad Dipati Ukur terlihat dekat. Tapi kali ini, sudah jauh dari Gedung Sate, belum terlihat apapun yang menandakan kalau inilah Unpad Dipati Ukur. Melewati Kebun Binatang Bandung, makin aneh rasanya, Kebun Binatang dekat dengan ITB, lalu di mana Unpad DU? Hingga akhirnya makin menjauh, dan turun ke jalan Siliwangi, lalu sebentar ketemu Jalan Cihampelas lalu belok kanan Jalan Lamping. Daku menyolek Te' Tuti rasanya ada yang salah dengan rute kali ini. Bertanyalah kepada sang sopir. Dan ditemukanlah jawabannya, harusnya kami menumpang angkot Caheum-Ciroyom, bukan Caheum-Ledeng. Buru-buru kami turun. Kami tertawa terpingkal-pingkal. Te' Tuti sendiri memang jarang sekali naik angkot, jadi kurang tau angkot mana yang rutenya melewati tujuan kita, karena angkot di Bandung biasanya beririsan di beberapa titik.

Dari Jalan Lamping, kami kembali ke Jalan Cihampelas, karena tujuannya mencari alamat garmen tersebut, dan tidak tau di Jalan Cihampelasnya sebelah mana, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki. Dan ternyata, alamat garmennya itu berada nyaris diujung jalan Cihampelas-Wastu Kencana, masih harus blusukan ke dalam gang-gang kecil. Tempatnya seperti rumah yang dijadikan gudang, yang berisi gunungan pakaian, jadi kalau mau memilih harus bersakit-sakit dahulu, berenang-renang ketepian. *Terbayangkan setelah tinggal di Bandung, kami berjalan kaki sejauh itu menyusuri Cihampelas.

Hari berikutnya, kami berkeliling ke daerah tengah dekat alun-alun, Kings seperti Melawainya Jakarta, Kota Kembang, disana pasar tempat membeli tas-tas murah, sandal, sepatu, Tamim bahan-bahan celana jeans dan seprei, tembus ke Pasar Baru.

Hari berikutnya ke Cimol alias Cibadak Mall hihihhihihihi, ternyata isinya barang dan baju-baju bekas impor, dan dijual dengan harga murah. Sehabis membeli wajib hukumnya dicuci sebersih-bersihnya bahkan dicuci di laundri. Menurut Kak Fahmi, baju-baju seperti itu yang banyak dijual oleh mahasiswa dikampusnya pada saat bazar mencari dana untuk event-event tertentu. Dan laku keras! Takjub sendiri, harga bajunya dari Rp. 5.000,- bisa dijual di kampus itu rata-rata Rp. 25.000-50.000,-

Om Iwan dan Tante Uci juga datang ke Cicaheum untuk bertemu dengan kami, karena mustahil saat ini daku berdua Lita bisa sampai ke Cimahi kalau tidak diantar atau dijemput mereka. Tante Uci dan Om Iwan datang bersama Mas Gugun yang baik hati pastinya. Saat itu daku berpikir, ada yah anak laki-laki yang mau mengantar ayah ibunya. Karena sependek pengetahuanku, jarang sekali anak laki seusianya, mau menemani ayah ibunya bepergian. Kukenalkan Lita pada mereka. Penasaran dengan Mas Guruh yang sampai saat ini belum pernah kutemui, seperti apa dia? Kenapa setiap Om Iwan dan Tante Uci ke Cicaheum, bukan Mas Guruh yang mengantar? Konon dari cerita Nenek, kakak beradik ini memiliki sifat yang berkebalikan satu sama lain.

Seperti biasa, Om Iwan dan Tante Uci menawari kami untuk singgah menginap di Cimahi. Berhubung niat berlibur 5 hari jadi 3 hari saja, singgah ke Cimahinya tidak bisa untuk kali ini. Akhirnya kami diantar hingga ke Terminal Leuwi Panjang. Dengan dibekali oleh-oleh banyak yang harus kami bawa pulang ke Jakarta.

-Bersambung-

Galau melandaku di waktu liburan berikutnya ^^


No comments:

Post a comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...