Monday, 9 September 2013

Bandung I'm in Love # 4

Cerita sebelumnya disini 

Akhir 1998

Terdamparlah daku di kampus ini. Satu-satunya cadangan yang kupilih sebagai antisipasi jikalau gagal lulus UMPTN. Jurusan Aktuaria Perbankan Fisip UI. Berat sekali hatiku menjalani semester pertama. Harus beradaptasi dengan lingkungan kampus yang bukan jadi tujuanku diawal.

Pilihan UMPTN yang kupilih kemarin lewat jalur IPC adalah Kedokteran Gigi UI, Kedokteran Gigi Unpad, dan Hukum UI. Kenapa akhirnya daku memilih UI, kedokteran gigi pula? Kalau di UI, itu karena Mama memohon padaku untuk tetap mencantumkan UI sebagai pilihan pertama. Lalu kenapa kedokteran gigi? Itu karena Kak Fahmi yang menyuruhku untuk memilih jurusan tersebut. Perempuan, jika berprofesi menjadi dokter terutama dokter gigi, akan memiliki jam kerja yang lebih fleksibel, semisal bisa dengan membuka praktek sendiri di rumah. Lalu kenapa Hukum? daku patuh saran Kak Fahmi memilih Hukum UI, nanti bisa melanjutkan kenotariatan, menjadi notaris yang bisa membuka kantor rumahan. Kalau saja daku sadar akan pilihan-pilihan itu malah makin menjauhkanku dari Bandung, terutama Unpad Dipati Ukur

Yang kurasakan setiap harinya adalah kesepian ditengah keramaian, sendirian, mengasihani diri sendiri didalam hati, merasa ini bukanlah tempat dimana seharusnya daku berada. Bayangan Bandung jadi semakin pendar, menjauh, begitu menyesakkan dadaku. Kesalahan rasanya memang sudah kubuat dari awal begitu memilih jurusan saat UMPTN maupun cadangannya, pilihan yang jauh melenceng dari tujuanku. Menyesal memang selalu datang diakhir waktu.

Kulalui hari-hari dikampus ini seperti robot. Datang tepat jam perkuliahan dimulai, dan langsung bergegas mengejar kereta untuk pulang saat jam kuliah berakhir. Sahabatku semenjak ospek jurusan, Arum dan Shay yang berbeda konsentrasi (mereka Aktuaria, daku Perbankan) sepertinya mereka bertipe sama, malas untuk kongkow-kongkow disela jam perkuliahan, kami biasanya langsung pulang ke rumah, atau mampir mendekam di kostan Shay di Barel. Erika, Ika dan Silva, yang kukenal sebagai teman dekat yang satu konsentrasi, terkadang memaksaku untuk ikutan mereka, namun hanya sesekali daku join dengan mereka.

Sering saat-saat jam kuliah pertama dengan yang kedua berselisih jeda 3 jam, daku memutuskan untuk pulang kerumah terlebih dahulu begitu kuliah pertama selesai, dan kembali lagi di jam kedua. Hal yang sangat tidak masuk akal, untuk jarak tempuh perjalanan pergi-pulang selama 2 jam. Hanya punya waktu 1 jam dirumah lalu kembali lagi ke kampus? Tapi Itu sering kulakukan, karena daku tidak bisa menikmati keberadaanku disini.

Satu semester kulalui seperti itu, kunamakan 'Kuliah tanpa Jiwa'. Seolah-olah kuliah hanya untuk menunaikan kewajiban agar tidak disebut pengangguran sementara. Namun masih kusyukuri, dengan kondisi seperti itu, daku masih bisa mendapatkan Index Prestasi pertama kali 3.3 dari 4.0. Sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai mahasiswi. Nilai itu cukup menclang diantara rata-rata kebanyakan teman-teman sejurusan bahkan ada beberapa teman Nasakom (nasib satu koma). Kulihat mayoritas mahasiswa/i disini terkenal dengan julukan 'anak gaul'nya dan daku merasa, daku bukanlah bagian dari mereka, atau karena daku sendiri yang menutup diri dengan mereka.

Awal 1999

Setelah memulai semester dua, daku mulai menyadari, kurang dari 6 bulan lagi, UMPTN akan dimulai. Daku dan beberapa teman SMA sepakat untuk mengikuti UMPTN lagi. Syukur-syukur kalau lulus nanti bisa keluar dari sini. Begitupun para sahabatku, seperti Lita yang sebenernya dia sudah adem ayem di Jurusan Sastra Perancis UI, namun tetap berniat untuk ikutan UMPTN lagi. Dion juga, walaupun sudah 'nyangkul' di Tehnik Pengairan Brawijaya, dia tetap mau mengulang UMPTN memilih ITB. Rio, yang masih berkutat dengan intensif di SSC demi mengejar ITB. Thesa juga demikian mengincar UNDIP. Kecuali Inoy, dia sudah enjoy di Akademi Sekretari Tarakanita dan tidak tertarik untuk mengulang UMPTN tahun ini.

Lalu bagaimana seandainya kalau daku tidak lulus UMPTN tahun ini? Apakah daku harus berpasrah untuk tetap stay di kampus ini? Jalan satu-satunya memang iya dan artinya mulailah daku harus membuka diri. Semakin banyak memiliki teman yang mungkin selama ini tidak daku sadari. Ada Ni' , Astri, Indah, Medya, Fiska, Firda, Mia, Icha dll. Mereka-merekalah yang kemudian membuat daku mendekat. Terutama Ni', Astri, Indah dan Medya. Kemanapun mereka hendak pergi, daku pasti diajak ikut serta. Sudah tidak adalagi selisih 3 jam jeda kuliah daku pulang ke rumah, bahkan yang ada, beberapa kali daku kabur bolos kuliah demi ikutan mereka ke PIM. Stay di kostan Indah berlama-lama, bahkan nyaris menginap saat UTS tiba, untuk belajar bersama-sama mereka. Sayangnya, Mama tidak akan pernah mengizinkan daku menginap saat itu.

Namun, disela-sela waktu bersama mereka, daku masih menyisihkan waktu untuk membuka soal-soal UMPTN. Mereka terkadang heran, kenapa daku masih saja mau mengulang UMPTN lagi tahun ini? Tidakkah daku sudah enjoy bersama-sama dengan mereka disini? Daku bilang, itu memang tujuan yang harus kukejar. Daku enjoy bersama mereka, sungguh! Menikmati setiap saat kebersamaan kami, wara-wiri bareng mereka. Akhirnya mereka mengerti, bahkan Ni' malah berniat ikut mendaftar UMPTN lagi.


UMPTN tinggal setengah bulan lagi. Tapi rasanya persiapanku masih minim sekali. Membagi konsetrasi dan fokus pada 2 hal secara bersamaan ternyata sulit sekali. Di satu sisi, daku harus belajar untuk persiapan UAS di kampus, disisi lain harus belajar materi UMPTN. Akhirnya kemarin daku memilih program IPS. Kupilih jurusan Ekonomi Studi Pembangunan dan Hukum UNPAD. Kedua fakultas ini berada di Unpad Dipati Ukur, dan aku tak mau salah memilih jurusan lagi. Mama pun dengan ikhlas hati membiarkan daku memilih Unpad semua sebagai pilihan. Mungkin selama ini juga mama menyadari, apa yang daku lalui di UI itu dengan setengah hati. Setiap ditanya tentang kuliah yang kujalani, memang selalu ku jawab dengan nada datar. Kuserahkan transkrip nilai juga dengan ekspresi biasa saja.

Kakek Jasman, pernah menasihatiku beberapa waktu lalu. Kakek bilang daku harus melawan semua perasaan minus yang kurasakan tentang UI, aku harus bersyukur dengan kondisi yang kudapat saat ini, kuliah di UI merupakan anugerah. Allah SWT yang paling tau apa yang terbaik buatku saat ini dan nanti. Ketidaklulusan UMPTN tahun lalu memang membuatku terus menyesali diri hingga saat ini. Menjadikanku termasuk orang yang gagal. Melupakan bahwasanya Allah SWT yang punya kuasa, dan Allah SWT yang paling tau dibalik semua rencana.

Hari ini, daku berangkat tes UMPTN lagi bareng Lita dengan perasaan yang sangat pasrah. Kuserahkan semua hasilnya nanti kepada Allah SWT. Daku hanya terus-terusan berdoa, apapun hasilnya, berikan daku kekuatan untuk menerimanya. Seandainya lulus di Unpad, itu memang yang daku harapkan. Jikalau tidak, berilah kelapangan hati, untuk terus menjalani episode UI dengan penuh rasa syukur.

- Bersambung -

No comments:

Post a comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...