Tuesday, 21 November 2017

Dinosaurus Bento


Assalamualaikum, Bentoers!

Setelah lebih dari seminggu absen ngebento, hari ini saya kembali dengan bekal simpel Kahfi. Roti cane berbentuk dinosaurus dari keju. Hari senin kemarin Kahfi juga tidak sekolah karena masih lelah sepulang dari Pematang Siantar senin dini hari.

Ya, 5 hari saya dan Kahfi menghabiskan waktu di Pematang Siantar. Kota yang pernah kami tinggali beberapa hari setelah menikah hingga 3 tahun setelahnya. Awal 2006 hingga akhir 2008. Tujuan saya kesana untuk menunjukkan ke Kahfi, kalau di kota itulah dulu ummi, abi dan kak khalila pernah tinggal. Jadi masing-masing anak tau dan pernah singgah di kota itu. Hal yang sama juga kami lakukan untuk Kakak Kamila dulu. Sebelumnya, 10 Februari 2012 kami membawa Kakak Kamila ke sana.


Tak ada perubahan yang mencolok dengan rumah yang kami sewa dulu di Jalan Senam. Cat tembok rumah dan atapnya tetap sama. Masih asri dan bersih seperti dulu. Hanya tanaman bunga mulai berkurang koleksinya. Semenjak Nenek Angsa meninggal dunia, tak ada lagi yang merawat bunga-bunga itu. Kakek hanya sebatas menyiram dan memangkas tanaman-tanaman itu jika mulai tak beraturan, sekaligus menyapu dan membersihkan halaman. Jujur, saya sangat merindukan rumah ini dan mengadopsi beberapa bagian halaman rumah ini untuk jadi bagian rumah baru kami disini. Salah satunya rimbunan tanaman asoka di sepanjang dinding rumah.


Begitupun dengan kost-kostan kami dulu di Jalan Purba, semua masih terlihat sama bentuk dan warna catnya. Hanya di depan kamar kostan kami yang dulunya ada taman berisi kolam ikan, pohon cengkeh, mangga dan aneka bunga, kini sudah menjadi bangunan 4 kamar kostan tambahan (bagian foto sebelah kanan).


Inilah Rumah Opung Arba'iyyah Sianturi (Allahuyarham). Tempat kami menginap setiap datang ke Siantar. Rumah opung berseberangan dengan kost-kostan kami dulu di Jalan Purba. Di rumah Opung ada juga 4 kamar kostan yang disewa teman-teman sekantor. Jadi rumah ini jugalah yang menjadi base camp kami dulu.

Opung baik hati sekali. Dianggapnya kami semua seperti anaknya. Keluar masuk rumah bisa kapan saja sesuka hati. Ada makanan apapun pasti kami selalu disuruh makan. Karena suamiku ini dianggapnya seperti anak sendiri, jadilah saya dianggapnya seperti menantunya. Gak akan saya lupa saat saya hamil Khalila, mabok parah muntah-muntah tak berdaya. Opung nyuruh pak suami menitipkan saya dirumahnya. Setiap pagi sebelum ke kantor, saya dititipkan di rumah opung, dan dijemput saat jam pulang kantor. Seharian saya disana, diurusnya saya bersama Kak Yen dan Kak Inun (putri-putri opung yang baik hati). Tak akan saya lupakan semua yang dilakukan Opung.

Saya dulu pernah bertanya, kenapa Opung ini baik sekali sama kami semua. Opung bilang "Awak teringat anak yang sedang merantau, kalau Awak baik sama anak orang dan menganggapnya seperti anak sendiri, semoga anak Awak dirantau juga dibaikinya sama orang lain" itulah, kebaikan Opung ke kami dan teman-teman yang lain gak akan terlupakan. Semoga semua kebaikan Opung jadi amal jariyyah yang terus mengalir. Aamiin yra.

 November 2011, pak suami datang ke Siantar pasca dinas beberapa hari dari Medan. Disitulah Opung minta  pak suami berjanji untuk membawa kami datang kembali ke Siantar. Rindunya dia ingin melihat Khalila yang saat itu sudah berusia 4 tahun. Sudah lebih 3 tahun kami tak berjumpa.  Kami bersiap  ke Siantar tanggal 10 Februari 2012. Taqdirullah, Opung Arba'iyyah Sianturi meninggal dunia Senin 30 Januari 2012 jam 11.50 wib. H-10 sebelum keberangkatan kami untuk menepati janji. Sedihnya... Karena dari cerita Kak Yen dan Kak Inun, Opung benar-benar menantikan tanggal 10 Februari 2012. Maafin Yah Pung! Selagi kami sehat ada rezeki insya Allah silaturahim kami ke anak-anak dan cucu Opung akan terus terjalin. Insya Allah...

Alfatihah ilaa ruuhi Opung Arba'iyyah Sianturi Binti Daud Sianturi.


Kalau ke Siantar, wajib injakkan kaki ke Parapat untuk melihat Danau Toba yang terlihat seperti lautan. Terlebih sore itu cuaca berawan agak mendung, membuat pemandangan danau toba lebih sunyi, misterius dan agak dramatis. Rasanya tidak ingin cepat-cepat beranjak dan menikmati pemandangan indah Pulau Samosir, Tanjung Unta dan Bukit Indah Simarjarunjung. Dalam hati saya ingin dikunjungan kami berikutnya, kami harus menginap disana meski semalam saja.


Senja semakin turun, saya tak menyia-nyiakan untuk berpose dengan back ground Danau Toba dan Pulau Samosir yang indah. Kahfi pun tak melewatkan waktu untuk bermain pasir dipesisir danau. Rasanya kunjungan kami kali ini terasa singkat dan belum puas menikmati suasana seperti ini. Kalau dulu, kami nyari seharian tanpa terburu-buru. Semoga sehat panjang umur dan ada rezekinya, kami bisa kembali lagi ke sana. Aamiin yra.



No comments:

Post a comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...