Monday, 6 August 2018

Domba-Domba Abe



Assalamu'alaikum, Bentoers.

Mungkinkah bento domba yang saya buat untuk bekal Kahfi pada hari kamis (2/8) kemarin ini dan belum sempat diposting blog di hari yang sama, adalah sebuah firasat akan kepergian Abe H. Ahmad, Kakekku? Yah, mungkin bisa dikatakan seperti itu. Abe adalah seorang pedagang kambing yang memiliki kandang dan rumah potong sendiri lalu menjualnya di pasar setiap hari. Sehingga bentuk domba ini bisa mengingatkan saya akan beliau.



Kemarin, Sabtu, 4 Agustus 2018, bertepatan dengan tanggal 22 Dzulqaidah 1439 H, pukul 14.52 wib Beliau menutup mata di RS. Islam Cempaka Putih di usia 90 tahun. Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un. Saya terakhir bertemu beliau pada jumat pagi sekitar pukul 8.00 wib. Saat itu saya ingin berpamitan untuk pergi ke Bandung dengan Kereta Argo Parahiyangan dari Stasiun Gambir. Entah kenapa, saat itu saya pakai acara pamit langsung ke beliau, karena biasanya setiap saya ingin pergi keluar kota, cukup memberi kabar via telpon melalui Ibu (sapaan untuk nenek kami).

Saat saya datang, beliau juga heran, tumben sekali di jum'at pagi, saya datang bersama anak-anak. Karena biasanya, anak-anak sekolah dan saya pasti sibuk wara-wiri dengan urusan antar-jemput Kahfi. Saya jelaskan kalau saya dan anak-anak mau pamit ke Bandung, menyusul suami yang kebetulan dinas di Bandung hingga hari ahad nanti. Beliau senang dan terlihat dalam keadaan sehat-sehat saja, meski sudah hampir sebulan ini mengenakan kateter. Tak ada tanda-tanda kesakitan dalam diri Abe. Bahkan terlihat lebih sehat dan ceria. Apalagi beliau sempat mengomentari enaknya saya dan anak-anak ke Bandung naik kereta. Lalu tertawa saat saya ajak untuk turut serta. Manalah mungkin dengan berkateter ria beliau mau dan bisa ikut. Pokoknya kondisi terakhir saat saya bertemu dengan beliau, masih baik-baik saja.

Saya menerima kabar beliau masuk RS, saat sabtu shubuh. Ternyata, jumat malam sekitar jam 22.00 beliau dibawa ke UGD dan berujung rawat inap. Keluhannya karena perutnya sakit dan mual. Saya pantau kondisi dari group whats-app keluarga besar. Meskipun jujur saja, saat tau Abe masuk ke RS, perasaan saya mulai tidak enak dan kurang bersemangat menikmati Bandung. Apalagi jam 14.00 wib, Tante Saya info kalau tiba-tiba, Abe yang sedang terbaring tiba-tiba mengajak semua yang ada di dalam kamar untuk berdoa sambil berkata "Doa orang yang sakit itu diijabah, Abe mau berdoa buat anak cucu, Alfatihah!" Yang serentak membuat siapa saja mendekati tempat tidurnya dan mengaminkan semua doa-doa beliau hingga selesai. Setelah itu beliau tidur miring dan tak lama kemudian mulai kehilangam kesadaran hingga kemudian meninggal dunia. Prosesnya sangat cepat hingga siapa saja yang ada di kamar tidak menyangka kalau Abe pergi secepat itu. Dalam keadaan Abe mulai tidak sadar, untunglah keluarga tetap sigap untuk terus membisikkan kalimat Allah sehingga insya Allah Abe pergi dalam keadaan husnul khotimah.

14.28 saya dan suami memutuskan untuk meninggalkan Bandung. Jadi berita kepergian Abe kami terima dalam perjalanan menuju pulang ke Jakarta. Rasanya seperti mimpi. Baru jumat pagi saya bertemu beliau dengan keadaan sehat dan segar, sabtu malam sudah terbujur tak bergerak. Selama perjalanan Bandung-Jakarta kami lebih banyak diam. Saya terus membayangkan hari-hari saya bersama Abe dulu. Sebagai cucu ke-empat dan tinggal bersama beliau saat saya remaja cukup banyak peristiwa yang saya lalui bersama beliau. Sosok yang tak banyak kata namun pemberi contoh, disegani oleh siapa saja yang mengenalnya, pedagang dan wirausahawan yang handal. Pencinta ilmu, habaib dan para ulama yang tak segan-segan membelanjakan harta bendanya untuk kepentingan agama, dan banyak lagi suri tauladan Abe yang membuat saya tersedu-sedu sepanjang jalan. Semoga kebaikan Abe bisa ditiru untuk anak keturunannya dan menjadi amal jariyyah yang terus mengalir.

Hingga tengah malam, para pelayat masih terus berdatangan. Banyak habaib juga kerabat handai taulan datang mendoakan Abe. Itu sangat menunjukkan bagaimana kebaikan Abe selama ini. Pemandangan yang cukup membuat kesedihan sedikit berkurang. Kami yakin, Abe sudah sangat cukup mempersiapkan bekal beliau untuk bertemu Robb-nya, Allah SWT. Kembali dalam keadaan mulia. Insya Allah.

Abe dimakamkan menjelang zhuhur, di pemakaman keluarga di belakang rumah. Semoga amal ibadah Abe diterima oleh Allah SWT, dijadikan kuburnya terang, indah seperti taman syurga, diampuni kesalahan dan ditempatkan ke dalam syurga... Aamiin yaa Robbal'alaamiin.









A golden heart stopped beating...
Hard working hands put the rest..
We could not make him stay.. Allah SWT brought our tears to prove to us He only take the best.

Until we meet again, Be...

Allahuyarham

H.Ahmad Bin H. Muhammad Nur
 (1928-2018)


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...