Monday, 2 September 2013

Bandung I'm in Love # 3

 Cerita sebelumnya disini

April, 1998

Liburan ke Bandung sebelum Ujian Ebtanas akhirnya tiba. Jumat pagi ini daku berangkat liburan dengan dua Omku, Ci' Aziz (suaminya Ci' Dewi), dan Ci' Najib (adik bungsu mama) beserta Ci' Alice, calon istrinya, dengan menumpang Kereta Parahiyangan. Kali ini tujuannya untuk menyusul Ci' Dewi dan anaknya, Nada, yang baru berumur 3 tahun, mereka sudah berangkat beberapa hari lebih awal, kami menyusul karena dua Omku ini baru bisa cuti hari jum'at sekalian menunggu daku kelar menerima raport kelas 3 cawu 2.

Dari Stasiun, kami langsung menuju Cicaheum seperti biasa, markas kami setiap ke Bandung pasti di rumah Te' Tuti. Meng-explore Bandung kembali sampai malam. Lanjut esoknya berkutatan di sekitar Bandung Kota. Kami benar-benar tidak menyia-nyiakan waktu tanpa menikmati Bandung hingga kesudut-sudutnya.

Kurasakan ada magnet yang sangat kuat yang menarikku untuk terus jatuh cinta akan Bandung. Rasanya jika diibaratkan itu seperti menemukan sosok seseorang yang 'perfect' untuk dijadikan pegangan dan panutan hidup. Entahlah, semenjak kedatanganku dulu itu, segalanya jadi terasa berbeda dan jadi begitu istimewanya Bandung dimataku. Apa karena daku benar-benar menginginkan kuliah disini, sehingga memacu semangat dan adrenalinku untuk mengejar bagaimana caranya supaya nanti bisa lulus UMPTN dan kesampaian menjadi mahasiswi Unpad. Segala tingkah polaku juga menjadi lebih terarah, teratur dan fokus. Daku punya tujuan, setidaknya kota inilah yang bakalan daku tuju untuk kuliah nanti.

Hari ketiga, kami boyongan untuk menginap di Cicalengka, ke rumah Kakek dan Nenek Jasman (orang tua Ci' Dewi). Suasana mirip pedesaan. Kami tiba disana lepas maghrib. Disini daku ditemani oleh Mas Sandi, keponakan laki-laki Ci' Dewi yang tinggal bersebelahan dengan rumah kakek dan nenek. Mas Sandi berusia lebih tua 1 tahun dariku. Anaknya santun dan baik hati. Setiap dia melihat daku mencari atau membutuhkan sesuatu selama di rumah Kakek, tak segan-segan dia menawarkan bantuan. Ternyata anaknya pun pintar bermain gitar. Sepertinya di keluarga besar ini cukup kuat mengalir darah seni. Mas Guruh konon katanya jago drum karena tumbuh dengan didikan Om Jimmy Manopo, temannya Om Iwan. Mas Gugun, katanya jago keyboard dan piano. Oo iya, akhirnya daku kemarin berjumpa dengan Mas Guruh. Kali ini dia yang mengantar Tante Uci ke Cicaheum untuk berjumpa dengan kami. Hemh, bener-bener bertolak belakang dengan kakaknya. Mas Guruh itu cuek, kemarin pas kami berkenalan, dia cuma menyebutkan namanya, langsung berpaling pergi menuju kamar Budi, tanpa mau mengobrol sama sekali kepadaku. Jangan-jangan, waktu kusebutkan namaku juga dia tidak mendengar.

Daku disuruh Mas Sandi buat ikutan menyanyi selama dia bermain gitar. Haduuh, paling nyerah deh kalau disuruh nyanyi, alhasil cuma berani bersenandung, tidak jelas nada dan ketukannya. Daku tidur malam itu bertiga dengan Ci' Alice dan Rika, adiknya Mas Sandi yang berumur 2 tahun dibawahku. Dinginnya udara Cicalengka malah membuat diriku tidak bisa tidur nyenyak. Rumah Cicalengka masih dipertahankan bilik kayunya, jadi kebayanglah angin malam itu masuk dengan leluasanya. Lantai keramik jadi makin dingin jika diinjak, dan diluar rumah, dikelilingi pohon-pohon tinggi, bagian depan ada taman ditanami aneka pohon bunga warna-warni. Di bagian samping kiri, ada lahan kosong yang ditanami tumbuhan apotik hidup oleh kakek dan nenek. Kalau tidak salah, ada pohon sirih, sambiloto, kalau cabe dan tomat sudah pasti ada juga disana. Di sisi kanan, disanalah rumah Te' Maria, ibunya Mas Sandi dan Rika tinggal.

Daku bertemu dengan Om Toto (Kakak Ci' Dewi) dan istrinya, Teh Dewi namanya. Daku kenal dekat mereka. Karena sebelum menikah, Teh Dewi ini tinggal di Jakarta, dan Kalau Om Toto datang berkunjung, suka mampir ke rumah. Pas mereka menikahpun aku ikutan hadir menyaksikan ijab kabul dan resepsinya di Jakarta. Jadi keluarga di Cicalengka inipun sudah tak terasa asing buatku.

Kakek Jasman tau, Daku ingin sekali kuliah di Bandung, sepertinya keluarga besar ini semua tau tentang keinginanku itu. Jadilah esok malamnya, kami berencana menginap di rumah Tanjung Sari, berkunjung ke Unpad Jatinangor lagi untuk menunjukkan kepada Ci' Najib dan Ci'Alice, mengumpulkan sebanyak mungkin 'beckingan' ku nanti ke mama dan ayah, jika sudah saatnya untuk memperbolehkanku memilih Unpad sebagai kampusku nanti.

Di malam daku menginap di Tanjung Sari, Om Toto datang bersama Teh Dewi, tapi mereka tidak menginap. Om Toto bertanya, apa daku lupa sudah janjian dengan Mas Gugun di Cicalengka? ternyata pas daku berangkat ke Tanjung Sari kemarin malam, Tante Uci dan Mas Gugun datang ke Cicalengka. Salah satu alasannya karena sudah janji padaku mau datang. Aih, beneran lupa, memang sehari sebelumnya, daku menelpon dia untuk menagih janjinya, jika daku datang liburan ke Bandung, dia akan mengantarkanku ketempat-tempat asyik di Bandung. Waktu terakhir mengantarkanku pulang ke Jakarta, di Stasiun Bandung, dia pernah bilang "jangan kapok untuk liburan ke sini, nanti setiap liburan, aku bakalan anterin kamu ketempat-tempat yang asyik di Bandung".

Ke Unpad Jatinangor lagi. Teringat ucapan Tante Uci "kalau nanti diterima di Unpad, tinggal di rumah Tanjung Sari saja yah fit, bersama teman-teman. Daripada rumah ini kosong, tak ada yang merawat. Kamipun datang kesini paling hanya wiken, itupun tidak setiap minggunya." Jadi terfikirkan, apakah fakultas yang ada di Jatinangor ini bisa jadi pilihan UMPTN nanti? Kedokteran Umum? Kedokteran Gigi? Psikologi? Fisip? Mipa? Fapet? Faperta? Dll. Galaulah daku untuk memilih jadinya. Hihihihihi.

Tak terasa, sudah 5 hari daku menghabiskan liburan. Saatnya kembali ke Jakarta. Kali ini diantar ke Stasiunnya hanya dengan Te' Tuti dan Om Iwan. Om Iwan yang tegas namun suka melucu ini senengnya berpesan setiap kali daku berpamitan pulang "Kamu harus janji, setiap liburan, harus menginap di Cimahi!" Dan memang belum pernah daku tepati. Mungkin karena Om Iwan dan Tante Uci tidak memiliki anak perempuan, daku merasa mereka jadi begitu welcome padaku.

Kereta perlahan meninggalkan Stasiun Bandung. Sedihnya, harus meninggalkan kota ini lagi untuk beberapa saat. Kota yang membuat perasaanku terasa damai. Didalam kereta, daku jujur-jujuran ke Ci' Dewi mengenai perasaanku tentang Bandung. Dari A-Z tak ada yang ditutupi. Secara keseluruhan, Ci' Dewi mendukungku, bahkan seluruh keluarga besarnya berharap daku benar bisa kuliah disini. Kegalauanku bukan hanya untuk memilih jurusan apa, tapi makin bertambah-tambah, yaitu bagaimana seandainya kalau keinginan itu tidak terwujud? Kemungkinan terburuk tidak lulus UMPTN?

- Bersambung -

Bagaimanakah takdirku tentang Bandung?

No comments:

Post a comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...